Cerpen Komedi Lucu Alami

06:04 0


Cerpen Komedi Lucu Alami



Cerpen Komedi Lucu Alami - Cerpen atau cerita pendek pastinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita, nenek-nenek yang baru lahir pun tahu apa itu cerpen. Tapi tidak ada salahnya juga jika kita lebih memperdalam ilmu kita mengenai Cerpen.

Cerpen lebih pendek dari novel, lebih tepatnya tidak lebih dari 10.000 kata
Cerpen hanya membahas satu konflik sampai selesai dan tidak memperlihatkan titik balik yang dialami tokoh
Cerpen biasanya hanya terdidi dari beberapa tokoh saja
Dan masih banyak hal yang menjadi ciri cerpen lainnya.

Oke, sesuati dengan judul artikel ini, gue akan membagikan sebuah cerpen bergenre komedi.

The Good Day

            Sinar matahari pagi sama sekali tak nampak, padahal ini sudah pukul setengah tujuh pagi. Riki masih saja terdampar di atas kasurnya, meskipun harusnya ia bersekolah hari ini. Nyanyian ayam jantan memasuki telinganya, perlahan matanya terbuka, lalu menutup lagi.
            “RIKI BANGUN!!! UDAH JAM 7!!!” teriak ibunya walau pun masih jam 06:30. Akan tetapi, hal itu berhasil membangunkan Riki, ia bergegas menuju toilet, dan mandi kilat. Setelah selesai ia bergegas mengenakan seragam putih abunya walau itu hari rabu dan harusnya mengenakan batik.
            Setelah selesai Riki pun langsung berlari menuju tempat dimana ia biasa memberhentikan angkot. Nampak mobil berwarna putih merah, ia pun memberhentikan mobil itu. Angkot itu sudah penuh memang, tapi berhubung Riki berpikir kalau waktu itu sudah pukul 7, akhirnya Riki pun memasuki angkot itu.
            Riki duduk bersebelahan dengan perempuan cantik, namun sayangnya dalam bentuk ayam. Riki bersebelahan dengan ayam betina. Sepanjang jalan ia berusaha sekuat tenaga menahan bau ayam itu.
            Sekolahan Riki sudah nampak. Riki langsung memberhentikan angkot dan membayar ongkos walau sekolahnya masih berjarak beberapa meter lagi. Menurutnya lebih baik berjalan kaki sejauh beberapa meter daripada berudaan bersama ayam.
            Untung saja, ketika ia sampai di kelas, guru masih belum masuk. Riki melempar pandangan ke jam dinding di kelas. Jam itu menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit. Riki sedikit aneh memang, mana mungkin semua kejadian itu hanya berlalu selama lima menit, tapi Riki tidak telalu ambil pusing dengan hal itu.
            Riki menaruh tasnya di kursi dan mengistirahatkan kakinya.
“Kok, lo pake PSAS sih,Ki? Seragam batik lo mana?” tanya Joni, teman sebangkunya
“Hadeuh! Gue lupa,”
“Hooh, BTW, PR Fisika udah, Ki?”
“Yaudahlah,” balas Riki santai
“Boleh liat nomor 7? Gue tinggal satu nomor laginih,” pinta Joni
“Liat?!” Riki memicingkan matanya
“Jangan liat! Nyontek aja,” ucap Riki
“Hehehe, gue kira lo gak bakal ngasih gue contekan,” ujar Joni
“Bentar,” Riki membuka tasnya. Lalu mengobok-ngobok isinya, namun ia tak menemukan bukunya. Akhirnya ia pun ingat kalau buku Fisikanya masih di atas meja belajar
“Astaga naga! Gue lupa bawa buku Fisika,” wajah Riki mulai pucat
“Mampus lu, bisa-bisa lu direbus dilarutan garam,” ucap Joni
“Cih, gue ngerjain lagi di buku lain ajalah.” Riki mulai menyiapkan buku dan pensilnya. Kemudian melakukan aksi tanya sana-sini, dan liat sana-sini. Ia memang harus bergegas, karena Fisika adalah pelajaran pertama.
            Dengan skill tangan kilatnya, Riki berhasil menyelesaikan tugas Fisika. Sesaat kemudian datanglah seorang guru yang berkata kalau guru fisika tidak bisa masuk karena ada panggilan dari dinas. Entah itu kabar baik atau buruk untuk Riki, disatu sisi ia sudah cape-cape mengerjakan tugas Fisika, disatu sisi ia tak perlu bertatapan dengan pak Doni Maung, guru Fisika.
            Jam pelajara pertama dan kedua berlalu dengan sangat membosankan. Suasana kelas pun tak berisik, semua siswa berada di bangkunya masing-masing, tapi mereka tidak mengerjakan tugas, mereka hanya memainkan ponselnya masing-masing. Keheningan itu akhirnya sirna ketika pak Asep Kobra memasuki ruangan dan mengumumkan kalau sekarang ulangan dadakan.
            Sontak pengumuman itu mengejutkan semua siswa, tapi sifat pak Asep Kobra yang tegas tak menghiraukan hal itu. “Jika kalian memang tidak ingin ulangan, silahkan untuk keluar kelas dan main diluar, tapi jangan harap kalian tuntas pelajaran bapak.” Itulah pesan yang keluar dari mulutnya yang tajam.
            Riki yang sama sekali tidak belajar semalam dan kurang tidur, hanya bisa bengong melihat soal ujian matematik di hadapannya. Perlahan pandangannya bergeser ke arah pak Asep Kobra. Perhatian pak Asep tengah teralihkan koran di hadapannya. Tangan Riki langsung mengeluarkan ponselnya dan memasuki mesin pencari.
            “Pelanggan yang terhormat, maaf, kuota internet Anda sudah habis”. Sial!, gerutu Riki. Akhirnya dia hanya bisa memanfaatkan kemampuan mata elangnya.
            “Baiklah, waktunya sudah habis. Silahkan dikumpulkan.” Ujar pak Asep. Para murid langsung mengumpulkan kertas ulangan mereka, tak terkecuali Riki.
            Pak Doni pamit, ia keluar dari kelas. Dan para muris pun langsung membahas tentang ulangan tadi. “Gila, soal setiap murid beda!”
KREK
            Suara hati Riki yang remuk ketika mendengar ucapan murid di belakangnya. Murid lain pun mengiyakan ucapan murid itu.
            Kejadian demi kejadian buruk menimpa Riki, namun untung saja dia bisa melewati harinya di sekolah. Kini Riki berada dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Dia berjalan di jalan kecil dengan petakan sawah di pinggirnya.
            “Haah~ kenapa hari ini gue sial banget, ya,” pikirnya. Seketika itu juga ada serangga yang menabrak jidatnya. “Tuh kan, gue sial.
            Pandangan Riki tanpa sengaja terpaku ke sapi besar yang tengah memakan rumput di pinggir jalan. Ketika melihat sapi itu Riki langsung bersykur. Mungkin kamu bingung, “Lho, kok lihat sapi aja bersyukur?
            Ketika melihat sapi itu, Riki langsung berpikir “Untung saja yang tadi nubrug jidat gue serangga, gimana kalo sapi itu yang nubrug jidat gue.
            “Untung tadi gue masih bisa naik angkot, kalo enggak bisa kesiangan. Untung tadi pak Doni Maung gak dateng, kalo ketahuan buku gue ketinggalan, gue bisa dibikin lalab. Dan saat gue mentok ulangan MTK, itu adalah sebuah pelajaran berharga buat gue, gue harus lebih rajin belajar.
            “Saat lo liat orang pake mobil sementara lo pake motor, bersykurlah, orang lain ada yang pake sepeda. Dan saat lo pake sepeda, bersyukurlah, orang lain ada yang jalan kaki. Dan saat lo jalan kaki, bersyukurlah, orang lain ada yang lumpuh. Dan ‘kalau’ lo lumpuh, bersyukurlah, orang lain ada yang udah modar.

- Tamat -

Contact Author (Biar bisa ngobrol-ngobrol dan menjalin buhungan persaudaraan, tau lebih juga gak masalah, hehehe ... atau mau tanya-tanya seputar blog, cara bikin cerita, bisa juga kirim cerita kamu juga buat dipost di blog ini, atau apapun juga. Gue juga post update-an blog ini di medsos btw)

Facebook : Salman Alparizzi
Instagram : @salmanalparizzi
Line : salmanalparizzi

Naskah Drama Komedi Pendek

15:16 0
Naskah Drama Komedi Pendek



Yo! Dalam artikel ini akan menshare soal naskah drama. Drama, drama adalah sebuah pertunjukkan yang diselenggarakan di atas panggung, namun berdasarkan pengalaman gue lebih sering di depan kelas sih (?) Sementara naskah drama sendiri merupakan teks atau tulisan mengenai kejadian-kejadian yang terjadi dalam drama itu.

Oke, sebelum ke naskah dramanya. Kita sedikit mengenang kembali ingatan mengenai mantan naskah drama.

Drama ada 3 jenis, ada drama comedy (dari awal sampai akhir penuh dengan gelak tawa)
Drama tragedi (dari awal sampai akhir penuh dengan kesedihan)
ada mellow drama (Hasil kawin silang dari kedua jenis drama di atas)

Oke, selain itu di drama juga ada beberapa pemain, yang memiliki perannya masing-masing, ada peran antagonis dan protagonis, lo pasti udah tahulah mengenai hal ini.

Dalam Contoh Naskah Drama Komedi Pendek (Males bikin yang panjang, dan gue yakin lo juga males ngafalinnya) ada beberapa tokoh.

1. Mikhael
2. Downy
3. Joko
4. Rina

Bumi

Di suatu rumah yang tenang nan sunyi, terdapat 4 orang anak remaja yang tengah bercanda gurau, dengan teman-temannya di medsos. Di dunia nyata mereka hanya saling diam dan fokus terhadap ponsel mereka masing-masing, kecuali Joko karena ponselnya mati.

Rina :"Hahahahaha," (ketawa sendiri sambil mantengin ponselnya sendiri)
Downy :"WKWKWKWKWKW," (ketawa cetar sambil liatin ponsel)
Joko :"Oy! main yuk! Kita Hiking atau apa gitu?"
.... (tak ada yang menanggapi)
Mikhael :"Uy, ada diskusi di forum, debat antara bumi itu bulat atau datar, menurut kalian gimana sob??"
Rina :"Bumi itu bulatlah,"
Downy :"Iyalah,"
Joko :"Bumi itu datar!"
Semua :"Lho? Kok!!!"
Downy :"Lu gimana sih, Ko? Udah jelas bumi itu bulat,"
Joko :"Enggak, bumi itu datar, sekarang gini aja, kita semua keluar dari ruangan ini dan buktikan siapa yang benar,"
Rina :"Oke."

Mereka pun berhamburan keluar rumah, dan menuju sebuah lapangan yang luas.

Joko :"Oke, ini argumen gue yang pertama. Kalian liat pesawat yang lewa itu?" (nunjuk ke atas)
Mikhael :"Enggak?"
Joko :"Sama, gue juga. Emang ga ada pesawat, tapi, kalo benar bumi itu bulat, pesawat yang terbang lurus, bisa pergi ke luar angkasa,"
Rani :"Oke, gue bisa langsung matahin argumen lu yang ngawur itu, sebenernya pesawat itu ga perbang lurus, tapi sedikit demi sedikit bengkok karena tertarik oleh grafitasi bumi yang diakibatkan perputaran bumi,"
Joko :"Nah, itu! Lu baru aja metahin argumen lu sendiri, kalo bumi itu berputar dengan cepat, terus kenapa kita tidak merasakannya?"
Downy :"Karena saking cepatnya dan saking besarnya bumi, ditambah lagi ada lapisan atmosfer,"
Mikhael :"Oke, sekarang giliran kubu kita yang nyerang. Bukti bahwa bumi itu bulat adalah ketika lo liat kapal yang pergi ke tengah laut, kapal itu menghilang seolah tenggelam ke dalam laut, padahal kapal itu tak terlihat karena bumi itu bulat,"
Joko :"Itu bisa aja karena kapalnya pergi terlalu jauh sampe gak keliatan. Sekarang giliran gue lagi, kalo bumi itu bulat dan berputar-putar dengan cepat, lalu kenapa bintang di langit tidak bergetak?"
Semua :"...." (diam bingung)
Joko :"Karena bumi itu gede banget dan selain muter sendiri bumi juga muterin matahari. Kalian gimana sih?" (tanya Joko kesel)
Mikhael :"Itu lu tahu, terus kenapa milih bumi itu datar?"
Joko :"Yaa, sebenernya gue cuma mau cari alasan biar kita bisa ngobrol panjang lebar secara langsung kayak gini, gak saling diem dan sibuk ama ponsel maisng-masing kayak tadi. Bumi ini bulat, datar, pesegi pun gue gak peduli, itu gak bakal bikin hidup kita sengsara,"
Rani :"Ooow, gituuh. Yaudah, yuk masuk lagi ke rumah,"

Setibanya dalam rumah.
...... (saling sibuk ama ponsel masing-masing lagi)
Joko :"Masabodo ah, mending gue cabut!" (pergi)

Dari cerita Joko dan teman-temannya tadi, kita bisa bisa mengambil suatu hikmah kalau bumi itu bulat, tapi tidak digoreng dadakan.

- Tamat -

Contact Author (Biar bisa ngobrol-ngobrol dan menjalin buhungan persaudaraan :D atau mau tanya-tanya seputar blog, cara bikin cerita, bisa juga kirim cerita kamu juga buat dipost di blog ini, atau apapun juga. Gue juga post update-an blog ini di medsos btw)

Facebook : Salman Alparizzi
Instagram : @salmanalparizzi
Line : salmanalparizzi

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk

04:02 0
Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk

Cerita Horor Penakut Dilarang Masuk - Cerita merupakan karya sastra atau karya tulis yang banyak digemari. selain itu genre atau jenisnya pun ada banyak, ada horror, komedi, romance, dan sebagainya. Nah dalam artikel kali ini, saya mau membagikan salah satu cerita horor, yang ... bisa dibilang bikin mimpi buruk.

Oke, langsung aja ke ceritanya, selamat menikmati!

Dia Akan Datang
Oleh : Muhammad Salman Alparizzi


            Apa kamu bisa mengingat mimpimu?. Sebagian besar orang memang selalu melupakan mimpi yang mereka alami saat mereka terlelap, tapi mimpi buruk berbeda. Mimpi buruk selalu diingat oleh orang yang mengalaminya. Bahkan mimpi buruk terkadang meracuni pikiran orang yang dihampirinya.

            Aku pernah mengalami mimpi buruk, sangat buruk. Meskipun mimpi itu sangat menyeramkan, tapi aku hanya bisa mengingat sebagian kecilnya saja. Awalnya di mimpiku ada yang salah paham terhadapku. Kemudian aku bersembunyi dari sesuatu. Lalu aku bertemu dengan orang yang membawa kabar buruk.
           
            Aku sedang berduaan dengan novel horor yang baru aku beli. Mataku terus bergerak dari satu kata ke kata selanjutnya. Tanganku terus membuka lembaran demi lembaran kertas. Sampai akhirnya tidak terasa aku sudah selesai membaca novelku. Aku melempar pandanganku ke jam dinding yang memberitahuku bahwa sekarang sudah jam 7 malam. Aku beranjak dari tempat tidurku. Kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.

            Aku berjalan melewati ruang tamu untuk sampai ke dapur. Mataku tidak sengaja melihat seorang perempuan dengan rambut coklat sebahu sedang duduk manis di sofa.
“Tamu dari mana?” pikirku dalam hati, tapi akhirnya aku masa bodo dengan wanita itu. Aku terus berjalan menuju dapur.

            Seperti biasa, aku mencuci tanganku di tempat cuci piring. Tiba-tiba saja pandanganku secara otomatis beralih ke samping kiriku. Aku melihat wanita itu sedang menatapku dalam. Aku langsung berjalan mundur, menciptakan jarak antara kami berdua. Dia perlahan tersenyum kepadaku. Rasanya aku pernah melihatnya.

            Semua lampu tiba-tiba mati menyala terus menerus. Rasa ketakutan langsung menyelimutiku. Aku berlari sekencang yang aku bisa, menuju pintu keluar. Akhirnya aku sampai di pintu keluar. Dengan nafas terengah-engah aku berusaha membuka pintu penyelamat itu, tapi sialnya pintu itu terkunci. Sepertinya orang tuaku mengira kalau aku tidak ada di rumah.

            Tiba-tiba telingaku memberitahuku bahwa ada yang berjalan menghampiriku. Aku langsung memutar leherku kebelakang dan melempar pandanganku ke sumber suara. Aku mendapati wajah hantu itu tepat di depan wajahku. Aku melihat matanya yang bolong dan seringainya yang mengerikan. Sontak aku langsung terjatuh oleh rasa terkejut dan takut. Kemudian aku perlahan merangkak menjauhi hantu itu. Dia terus memutar lehernya ke arahku. Lalu aku langsung melangkahkan kaki dengan cepat menjauhi hantu itu.

            Setelah berlari lumayan jauh, aku memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja. Dengan nafas terengah-engah aku berusaha menenangkan diri, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Otakku benar-benar dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

            Aku melihat kaki melayang melewatiku perlahan, tapi kaki itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan, sebelum akhirnya dia melewatiku begitu saja. Aku akhirnya mengembuskan nafas lega. Tiba-tiba hantu itu mengejutkanku dengan kepalanya mengintip dari atas meja sambil berteriak kencang. Jantungku terasa mau hancur karena terkejut. Hantu itu perlahan berusaha meraih tubuhku.  Aku bergerak mundur berusaha menjauhi tangannya. Tangannya sedikir lagi menggapaiku. Tiba-tiba tangan hantu yang satunya lagi menangkapku dari belakang. Dia manarikku keluar dari meja, dan menghempaskanku ke dinding.

            Aku perlahan berusaha bangkit sambil terus menatap hantu yang membungkuk di atas meja yang tersorot cahaya mati menyala dari lampu di atasnya. Wajah pucatnya yang berpadu dengan rambut hitam berantakanm menambah keseramannya. Dia perlahan membuka mulutnya, memamerkan giginya yang seperti gergaji.
“Apa yang kau mau dariku?. Keluar dari sini!. Jangan ganggu aku!. Pergi!!” teriakku kesal
Hantu itu membalas ucapanku dengan teriakkan melengking yang menusuk gendang telingaku. Aku menutup telingaku menggunakan telapak tanganku, tapi suara itu tetap menusuk ke dalam telingaku. Kemudian hantu itu melayang pergi menembus dinding, bersamaan dengan suaranya yang perlahan menghilang.

            Tiba-tiba saja pintu terbuka dan lampu menyala dengan normal. Aku perlahan berdiri. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Aku mendapati ibuku bersama dengan barang belanjaannya. Aku menatap ibuku dalam. Saranya senang sekali. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku ini, yang jelas aku sangat senang.
“Kamu kenapa, nak?” tanya ibuku khawatir
“Tadi ada yang mencari kamu, tapi sekarang dia malah tidak ada,” ucap ibuku sambil menaruh barang belanjaanya di dekat pintu. Aku melihat hantu yang tadi, sedang berdiri di belakang ibuku sambil melambaikan tangannya kepadaku.
“Pertama, ibu salah paham terhadapku, ibu beranggapan kalau aku tidak ada di rumah. Kemudian aku bersembunyi dari sesuatu. Lalu ibu datang membawa kabar buruk. Rasanya aku pernah mengalami hal ini. Akhirya aku ingat, aku pernah mengalami hal ini di mimpiku,” ucapku pelan
“Kamu kenapa jadi aneh begitu?. Ibu sedang buru-buru, jadi ibu tinggal lagi ya.” Ucap ibuku sambil berjalan meninggalkanku. Entah kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suara untuk menahan ibuku pergi atau berusaha menahannya. Sekujur tubuhku rasanya kaku.

            Akhirnya aku ingat serpihan kecil dari mimpiku. Di akhir mimpiku, aku mati secara mengenaskan dengan usus keluar dari tubuhku dan luka yang menghiasi sekujur tubuhku.
“Kenapa aku mengalami semua hal ini?. Kenapa aku bermimpi seperti itu?”
“Datanglah, datanglah. Bawa mimpi yang sama. Datanglah, datanglah. Bawa akhir yang sama” aku ingat aku membaca mantra itu dalam hati, pada sebuah cerita yang berjudul “Dia Akan Datang”, sebelum akhirnya mimpi buruk itu menghampiriku, dan disusul oleh hantu itu.

            Aku memutar mataku ke hantu itu. Dia melayang menghampiriku perlahan. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan akhir dari kisahku, karena nanti kau juga akan mengalami akhir yang sama denganku. Selamat tidur, semoga kau bermimpi buruk.


- Tamat -

Gimana ceritanya?? Ditunggu komentar yang 'sopan'nya, ya :)

Eits, jangan kabur dulu, baca-baca cerita yang lainnya dong, biar tambah merinding and rame

I'm NOT a Monster!!! (Psychopath story)
Five Days At Fredy (Boneka Hantu)
Liburan Pembawa Kesenangan Dalam Kematian
200 Berbanding 2 (Cerita Hantu)

Cerpen Cerita Misteri Detektif Keren Abis

13:32 0
Cerpen Misteri Detektif Keren Abis


Cerpen Misteri Detektif Keren Abis - Yo, guys, selamat datang di blog absurd gue. Di artikel kali ini gue mau bagiin cerita, lebih tepatnya cerpen yang bergenre misteri. Misteri pastinya menjadi daya tarik tersendiri, ya guys. Kemisteriusan bisa bikin penasaran, gimana aja cowok misterius yang suka dikejar-kejar cewek kayak admin *jduak. Oke, sebelum ke ceritanya, admin mau bahas dikit mengenai cerpen.

Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah karya tulis yang cukup banyak penggemarnya, apalagi kalau di luar negeri, tapi kalau di Indonesia, buset, peminatnya dikit, maklum, orang yang suka baca di Indonrsia itu 1 berbanding 10.000. Mantap, 'kan?

Cerpen itu ada banyak jenisnya. Contohnya kayak Cerpen Komedi, Cerpen Horror, dan lain-lain. Nah, seperti judul dalam artikel ini, kali ini gue mau bagiin cerpen misteri.

Oke, guys, sekian basa-basinya, selamat menikmati cerpennya.

Liburan Pembawa Kesenangan Dan Kematian

            Kenapa ini terjadi?. Liburan ini berjalan dengan lancar sampai salah satu teman kami, Styve, tiduran di lantai dengan darah yang menghiasi sekujur tubuhnya, benar, dia dibunuh. Terus terang, ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti ini.

            Awalnya liburan kami di villa ini baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja hal ini datang bersamaan dengan datangnya malam.
“Liburan ini semakin menarik,” gumam Alpa pelan
“Sebelumnya hal ini belum pernah terjadi di villaku. Ini malam pertama kita disini, dan hal ini sudah terjadi. Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?” tanya Garin cemas
“Mana aku tahu. Yang jelas pelakunya ingin memberikan kita sebuah rasa ketakutan,” jawab Griss dingin sambil memotret mayat Styve
“Hah?. Apa maksudmu?” tanya Garin lagi
“Lihatlah,” jawab Griss sambil menunjuk sebuah tulisan ancaman dari darah pada dinding di dekat mayat Styve. Tulisan itu berbunyi “Mati saja kalian”
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Garin bingung
“Pelakunya pasti salah seorang dari kita, jadi kita bongkar kedoknya sebelum ada nyawa yang melayang lagi. Rika dan Silvi belum mengetahui hal inikan?” ucap Griss
“Ya, belum,” jawabku pelan
“Kalau begitu kita beritahu mereka,” ucap Griss datar
“Tunggu dulu, jika kita memberitahu mereka, akan terjadi kepanikan, ditambah lagi mereka akan sangat sedih,” sangga Garin
“Kita tidak boleh menutupi kebenaran, dan semakin lama mereka mengetahuinya, semakin besar kesedihan yang akan mereka alami,” balas Griss sambil melangkahkan kaki menuju ruang tengah dimana Silvi dan Rika berada, disusul oleh aku dan Garin
“Ayo cepat,” ucap Griss kepada Alpa
“Kalian duluan saja, aku mau mengumpulkan petunjuk.” Balas Alpa

            Setelah melangkahkan kaki selama beberapa saat, akhirnya kami sampai di ruang tengah. Dimana Silvi, dan Rika berada. Mereka sedang duduk di sofa sambil saling melempar canda.
“Ada apa?” tanya Rika yang mulai sadar kalau ada yang tidak beres
“Styve ..., dia,” ucap Garin pelan
 “Mati,” sambung Griss datar. Silvi dan Rika langsung memasang wajah bengong yang menunjukan bahwa mereka tidak percaya dengan hal ini. Kemudian Silvi perlahan meneteskan air mata kesedihan.
“Woy! Apa hatimu itu terbuat dari baja?” bentak Garin marah
“Sudah-sudah tenang,” ucap Rika kepada Silvi
“Yo, gue datang. Semua alat komunikasi sudah dihancurin dan semua jalan keluar termasuk jendela di tutup balok kayu yang udah dipaku,” ucap Alpa sambil duduk di sofa depan Silvi dan Rika
“Untuk melakukan semua hal itu pastinya memerlukan waktu yang tidak sedikit” jelas Griss
“So?” tanya Alpa singkat
“Dimana dan dengan siapa kalian selama 2 jam terakhir?” tanya Griss dingin
“Kalau akusih, sedang tidur di kasur,” jawab Alpa
“Ya, tadi aku sedang bermain tablet di dekat Alpa yang sedang tertidur,” balas Garin
“Ouh ya. Kalau kau, Carter?” tanya Griss kepadaku
“Bukankah tadi aku mengobrol denganmu di dapur,” jawabku bingung
“Aku hanya mengetesmu. Kalau kau, Silvi?” tanya Griss dingin
“Woy! Silvi tidak mungkin membunuh pacarnya sendiri,” bentak Garin marah
“Sebenarnya, orang yang membunuh orang yang dia sukai itu sangatlah sering terjadi. Pembunuhan karena rasa cemburu, bertepuk sebelah tangan, dan hal lainnya. Tidak ada yang bisa menjamin kalau Silvi tidak melakukan hal itu,” balas Griss datar
“Aku mengobrol dengan Silvi dari tadi!” balas Rika
“Ouh ya. Baiklah,” ucap Griss sambil duduk di samping Alpa
“Well, tadi aku menemukan hal yang menarik,” ucap Alpa sambil mengeluarkan 3 buah kartu dari saku jaket putihnya. Kemudian membariskan kartu itu di atas meja.

            Alpa membariskan kartu 5 hati, 5 wajik, dan 6 keriting. Lantas ada apa dengan kartu-kartu itu?. Jujur saja, meskipun aku sudah memperkerjakan otakku dengan sangat keras, tapi aku sama sekali tidak mengerti hal ini.
“Aku menemukan ini di saku Styve. Permainan ini menjadi semakin menarik,” ucap Alpa pelan
“Woy! Kau menganggap ini permainan? Kenapa kau bisa tenang begini?” tanya Garin marah
“Bukankah sudah jelas pembunuhnya ingin mengajak kita bermain. Lagipula kita disini untuk berlibur. Jadi kita nikmati saja liburan ini, karena ini bisa saja menjadi liburan terakhir kita,” balas Alpa
“Mungkin ini juga bisa menjadi petunjuk,” ucap Griss sambil menunjukan foto mayat Styve dari kameranya
“Well, Styve memang suka bermain kartu. Sepertinya dia sengaja menyimpan kartu ini sebagai petunjuk. Masalahnya, apa maksud dari kartu ini,” ucap Alpa
 “Ini sederhana saja,” balas Griss datar
 “Jadi, siapa pelakunya?” tanya Garin penasaran
“Kau,” jawab Griss datar
“Hah?. Apa maksudmu?” tanya Garin bingung
“Sederhana saja. Setiap kartu-kartu ini mewakili orang yang terlibat dalam hal ini,” jawab Griss
“Hoy. Jangan membuatku semakin bingung,” ucap Garin
“Kartu 5 hati, angka 5 merupakan inisial, dengan kata lain, angka 5 itu berarti S. Sedangkan hati bisa dibilang mewaliki perasaan Styve, dengan kata lain 5 hati itu mewakili Silvi. Lalu 5 wajik, angka 5 disini juga mewakili inisial. Persamaan warna wajik dan hati menunjukan kalau orang yang diwakili kartu ini memiliki hubungan dengan Silvi, dengan kata lain kartu 5 wajik mewakili Styve. Dan yang terakhir, kartu 6 keriting, ini mewakili pelaku. Angka pada 2 kartu sebelumnya merupakan inisial, begitu juga dengan kartu ini. Bisa dibilang angka 6 adalah huruf G, tapi disini ada 2 orang yang berawalan huruf G, yaitu aku dan kau. Styve menambahkan hubungan dirinya dengan Silvi, itu artinya pelakunya ada kaitannya dengan hubungan mereka. Dan disini yang berawalan huruf G dan memiliki kaitan dengan hubungan mereka adalah kau. Bukankah kau sudah lama menaruh perasaan kepada Silvi, tapi kau tidak pernah mengatakannya karena Silvi sudah memiliki pacar, yaitu Styve. Pada akhirnya kau menyingkirkan Styve” jelas Griss dingin, membuat kami terpaku mendengarnya
“Tadi kau bilang kalau kau bermain tablet di dekatku, tapi aku sedang tidur, jadi mana mungkin aku bisa tahu kalau kau benar-benar berada di dekatku. Villa ini juga milikmu, jadi besar kemungkinan kalau kau sengaja menjebak kami disini,” tambah Alpa
 “Aku tidak melakukannya!” sangga Garin sambil sedikit melangkah mundur
 “Jadi kalian tidak mempercayaiku, ya?”
“Atau jangan-jangan kalian sengaja menjebakku?” tanya Garin sambil meraih cutter yang sedang menganggur di atas meja di dekatnya
 “Yo, jadi pelakunya sudah ditetapkan,” ucap Alpa sambil beranjak dari sofa
Alpa memutar matanya, menatap kami satu persatu. Kemudian berkata “Jadi hanya aku saja yang akan mengurusnya. Baiklah,”. Alpa perlahan melangkahkan kakinya menuju Garin
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Garin gugup

            Garin mengayunkan cutternya, dan dengan santai Alpa menangkap pergelangan tangan Garin. Kemudian memutarkan tangan Garin. Lalu Alpa mematahkan tangan Garin di bagian siku menggunakan lututnya. Setelah itu Alpa memberikan tendangan keras yang membuat Garin membentur dinding. Alpa perlahan membungkuk dan meraih cutter Garin yang terjatuh ke lantai.
“Sialan!” teriak Garin sambil berlari mengahampiri Alpa

            Garin memberikan sebuah pukulan di wajah, tapi Alpa dapat menghindari pukulan itu dan membalasnya dengan sebuah tebasan di leher yang membuat darah mengalir dengan derasnya.
“Diamlah,” bisik Alpa kepada Garin
“Sayang sekali pilihan kalian salah,” ucap Alpa sambil menarik cutternya dan membiarkan Garin terjatuh begitu saja
“Liburan ini memang sangat menyenangkan, tapi bagian terserunya baru akan dimulai.” Ucap Alpa sambil memutar lehernya menghadap kami dan memamerkan seringainya yang mengerikan.

            Kali ini dia berhasil mempermainkan kami. Sepertinya Garin yang sibuk dengan tabletnya sama sekali tidak sadar kalau Alpa beranjak dari kasurnya, lagipula Alpa bisa saja mengganti dirinya menggunakan bantal atau guling.
“Hm?. Bukankah disaat seperti ini, kau harus lebih panik daripada itu?. Kenapa kau bisa setenang itu?” tanya Alpa sambil menatap Griss tajam
“Sederhana saja. Sebelum kita berkumpul disini aku sudah mencurigaimu,” jawab Griss datar
“Hm,” ucap Alpa tanpa membuka mulutnya sedikitpun
“Setelah kita menemukan mayat Styve, kau tidak langsung kemari bersama kami, tapi kau berkata kalau kau mau mengumpulkan petunjuk sendirian. Jika aku jadi kau, aku pastinya tidak akan melakukan hal itu, karena pembunuhnya bisa saja mengincar nyawaku saat aku sedang sendirian seperti itu, tapi kau tenang-tenang saja, karena kau tahu bahwa kaulah pembunuhnya,” balas Griss tenang
“Ditambah, kartu yang kau bawa tidak memiliki noda darah sedikitpun, sedangkan saku Styve bisa dibilang terlumuri darah. Tadi aku memperlihatkan foto mayat Styve untuk menunjukan bahwa di saku Styve terdapat banyak noda darah, tapi sepertinya kodeku itu terlalu sulit dipahami. Tadinya aku mau menipumu dengan berpura-pura tidak tahu kebenarannya dan terbawa permiananmu, tapi malah teman-temanku yang tertipu. Tadi aku juga sempat berpikir kalau Garin bisa mengalahkanmu, tapi ternyata aku salah besar,” lanjut Griss sambil beranjak dari sofanya
“Ternyata kau memang pintar,” puji Alpa
“Meskipun otakku ini memang hebat, tapi sayangnya tubuhku ini tidak terlalu hebat, jadi sebaiknya kalian pergi selagi aku mengulur waktu. Tadi saat aku berjalan kemari, aku melihat jendela dapur yang di tutup balok kayu yang ukurannya lumayan kecil, mungkin kalian bisa pergi lewat sana,” suruh Griss. Tidak pernah terlintas dipikiranku kalau Griss itu orangnya sangat peduli dengan orang lain. Padahal dia bisa saja melarikan diri sendirian, tapi dia malah menyuruh kami untuk pergi. Orang seperti dia pasti sangat jarang
“Aku akan memberikan kalian waktu 2 menit untuk pergi. Dimulai dari 2 menit yang lalu.” Ucap Alpa sambil memasang seringainya

            Alpa melontarkan cutternya. Cutter itu menancap tepat di perut Griss. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk Alpa berlari kehadapan Griss, lalu memegang cutter yang masih menancap di perut Griss sambil menggeser cutternya ke atas, mengoyak tubuh Griss. Pada akhirnya Griss terjatuh tak berdaya dalam hitungan detik.

            Alpa perlahan melangkahkan kaki menuju kami. Entah kenapa rasanya kakiku ini sangat sulit untuk digerakkan, sepertinya ketakutan telah membekukan kakiku ini. Tiba-tiba saja tangan Griss memegang kaki Alpa, memotong langkah kakinya. Alpa perlahan memutar lehernya ke arah Griss.
“Cih!. Lepaskan,” ucap Alpa sambil menendang Griss, tapi genggaman tangan Griss sama sekali tidak terlepas. Akhirnya Alpa mendaratkan tendangan kepada Griss sambil berteriak “Lepaskan! Lepaskan!” secara bertubi-tubi. Melihat kesempatan emas itu aku langsung menarik tangan Rika dan Silvi sambil berlari menjauhi Alpa.

            Kami berlari, berpacu dengan waktu dan didorong rasa ketakutan. Akhirnya kami sampai di hadapan jendela dapur yang terhalang balok kayu kecil yang menempel tepat di tengah-tengahnya. Aku berusaha mematahkan balok kayu itu dan memecahkan jendelanya dengan semua kekuatanku. Banyangkan saja, ada pembunuh gila yang sedang mengincar nyawaku saat ini.

            Aku memutar leherku ke belakang. Aku mendapati bayangan Alpa di luar pintu dapur. Jelas sekali waktunya tidak akan cukup. Akhirnya aku, Silvi, dan Rika bersembunyi di bawah meja. Alpa perlahan melangkahkan kakinya, memasuki ruangan ini. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti mendadak di tengah-tengah ruangan, hal itu membuat jantungku semakin berdebar kencang.
“Dimana kalian?. Cepat keluarlah. Carter, dimana kau?. Kau tidak usah takut kepadaku. Kita sudah berteman sejak lamakan.” Ucap Alpa sambil memainkan cutternya

            Aku memutar mataku ke Silvi yang memasang tatapan kosong. Kemudian aku melempar pandanganku ke jam yang menempel di tanganku, jam itu berkata bahwa sekarang sudah pukul 10 malam. Ayahku sepertinya sedang berada dalam perjalanan pulang. Dia pastinya melewati tempat ini menggunakan motornya, dan dia tahu kalau aku menginap disini. Itu artinya masih ada kesempatan. Saat aku melihat cahaya di jendela yang berasal dari motornya. Aku harus membuat sebuah suara yang bising. Kemudian ayahku langsung membantu kami, dan hidup kamipun terselamatkan, tapi bagaimana kalau ternyata cahaya yang aku lihat bukan berasal dari ayahku? Jika cahaya yang aku lihat berasal dari orang yang peduli, mungkin kami masih bisa selamat, tapi jika orang itu sama sekali tidak peduli, itu artinya pemainan berakhir.

            Aku melempar pandanganku ke jendela. Tidak lama kemudian aku mengoper pandanganku ke samping.
“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Alpa yang sedang membungkuk di sampingku.

            Secara otomatis aku langsung keluar dari bawah meja bersama dengan Silvi. Aku mendapati Rika sudah diurus oleh Alpa. Alpa perlahan keluar dari bawah meja sambil menatap kami tajam. Tiba-tiba saja aku melihat cahaya dari jendela.

            Alpa mengayunkan cutternya kepadaku. Aku langsung menahannya menggunakan tanganku. Cutter itu merobek kulitku dalam dan membuatku langsung berteriak kesakitan sekeras mungkin. Jika cahaya itu memang berasal dari motor ayahku, teriakkanku ini akan langsung mengubah tujuannya kemari. Untung saja, itu memang ayahku. Aku melihat ayahku yang membelokan motornya dan dengan cepat menuju kemari.

            Ayahku langsung beranjak dari motornya, membiarkan motor itu tergeletak di tanah. Dia meraih sebuah batu besar yang menganggur di tanah. Kemudian melayangkan batu itu ke jendela. Setelah jendela itu berpencar, ayahku melemparkan stun-gun kepadaku. Aku menendang Alpa, menciptakan jarak antara kami. Lalu dengan sigap aku mengambil benda itu. Kemudian dengan cepat aku menempelkan benda itu ke Alpa dan “Drrt”. Alpa akhirnya pingsan tak berdaya.

            Setelah kejadian itu aku, dan Silvi berhasil keluar dari villa itu. Aku dan Silvi menunggu polisi datang di halaman villa. Liburan ini adalah liburan yang paling mengejutkan, tapi entah kenapa setelah melalui semua hal tadi rasanya menyenangkan.

            Tiba-tiba saja Silvi mengajakku untuk masuk kembali ke villa dengan alasan ingin melihat mayat Styve. Tanpa pikir pandang aku langsung menuruti kemauannya itu. Setibanya di hadapan mayat Styve, Silvi hanya diam mematung.
“Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi setelah mengalami semua kejadian ini, aku sadar kalau aku bisa mati kapan saja. Silvi, aku sangat menyukaimu, apa kau mau menjadi pacarku?” tanyaku serius
“Apa kau serius?” tanya Silvi pelan
“Ya, tentu,”
“Kau pikir kenapa aku sampai mempengaruhi Alpa untuk melakukan semua hal ini. Aku bahkan membohongi diriku sendiri,” lanjutku dalam hati sambil memasang sedikit senyum. Untuk membohongi orang lain, kau harus membohongi dirimu sendiri. Cara itu sangat ampuh, buktinya aku berhasil membohongimu
“Maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu,” jawab Silvi, menghapus senyum di wajahku
“Aku sangat mencintai Styve, meskipun dia sudah mati. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,” lanjut Silvi sambil membungkuk dan mengelus mayat Styve
“Begitu ya,” ucapku pelan sambil kembali memasang senyum dan bebalik
“Aku tidak tahu apa yang kau katakan itu benar atau salah, tapi aku yakin kalimat ‘aku tidak bisa membohongi diriku sendiri’ itu salah. Buktinya aku bisa membohongi diriku sendiri dengan berpikir dan bertingkah seolah aku sama sekali tidak ada hubunganya dengan pembunuhan ini. Untuk membohongi orang lain, kau harus membohongi dirimu sendiri,” ucapku sambil memutar leher ke arah Silvi
“Apa maksudmu?”
“Sederhana saja. Aku dan Alpa sudah berteman sejak lama. Seiring berjalannya waktu, aku menggeser kepribadiannya. Dan aku berhasil mempengaruhinya, membuatnya melakukan semua hal ini,”
“Kenapa kau sampai melakukan semua ini?”
“Tentu saja untuk mendapatkanmu. Aku pikir, hanya orang gila yang akan menolak penyelamatnya demi mayat, dan ternyata kau ini orang gila, jadi aku pikir meskipun aku memaparkan semuanya tidak akan ada masalah. Tidak ada yang akan percaya kepada orang gila. Lagipula meskipun polisi menaruh curiga terhadapku, mereka tidak akan bisa menangkapku karena tidak ada bukti sama sekali,”
“Kau sama sekali tidak mengerti. Kau mengorbankan teman-temanmu untuk hal yang sama sekali tidak membuatku senang!”
“Tidak ada orang yang mengerti orang lain melebihi orang itu sendiri. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak mengerti dirimu, karena kau juga tidak akan mengerti diriku. Dan untuk meraih sesuatu, kau harus mengorbankan sesuatu. Meskipun tidak ada jaminan kau bisa meraih sesuatu itu. Sejujurnya sekarang aku sudah tidak menaruh perasaan padamu, tidak semestinya aku menaruh rasa kepada orang gila,”
“Aku tidak gila, kaulah yang gila!. Bukankah tadi kau juga hampir mati!”
“Tidak ada orang gila yang sadar bahwa dirinya gila. Dan kau pikir orang yang dikendalikan nafsunya bisa membunuhku? Bisa dibilang dalam kejadian tadi Alpa adalah singanya, dan aku adalah hyena yang mengambil hasil buruan sang singa,” balasku sambil memalingkan wajah dan melangkahkan kaki

            Pada akhirnya polisi tidak mencebloskan Alpa kepenjara. Polisi hanya mengirimnya ke tempat dimana orang-orang seperti dia berkumpul, benar, rumah sakit jiwa. Pada awalnya kisah liburanku ini menjadi bahan pembicaraan di berbagai tempat, sampai akhirnya terhapuskan oleh waktu.

            Begitulah liburan menyenangkanku berakhir. Liburanmu akan sama menyenangkannya dengan liburanku, selama kau menganggapnya menyenangkan. Nikmatilah liburanmu, karena mungkin saja liburanmu itu akan menjadi liburan terakhirmu.


- Tamat -

Itu dia cerpen yang saya buat. Jika Kamu Mau Melihat Cerpen-Cerpen Yang Lain, Bisa Lihat Di ->  Kumpulan Cerpen


Dan Jika Kamu Tertarik Untuk Membuat Cerpen, Artikel ini akan sangat membantu -> Tips dan Cara Membuat Cerpen

Oke, sekian artikel kali ini ya guys. Jangan lupa buat add akun FB gue disini -> Salman Alparizzi  atau tambahin gue ke lingkaran google plus lo. Oke guys, thanks for your visit!

Naskah Drama Komedi Persahabatan : Kepintaran Yang Tertukar

12:26 2

Naskah Drama Komedi Persahabatan : Kepintaran Yang Tertukar


Naskah Drama Komedi Persahabatan : Kepintaran Yang Tertukar – Yo guys, welcome to my absurd blog dengan author aneh nan unic, Alpa (tidak masuk tanpa keterangan). Oke, di artikel kali ini mau bahas tentang naskah drama. Udah lusinan artikel di blog ini yang bahas naskah drama, sampai-sampai gue bikin top 3 Naskah Drama, dan sekarang gue mau bikin lagi naskah drama yang gak kalah kerennya, dengan naskah-naskah drama yang gue bikin sebelum-sebelumnya. Kali ini naskah dramanya tentang Kepintaran yang Tertukar, Nah dari judulnya aja udah kebayangkan bakal gimana? Oke, sebelum ke naskah dramanya. Kita simak dulu sedikit penjelasan mengenai drama.

Naskah drama, adalah suatu teks kejadian-kejadian dalam drama yang akan dipentaskan, sementara drama adalah suatu pertunjukkan atau pementasan yang dilakukan oleh beberapa pemain (antagonis., & protagonist), juga seorang narrator yang bertugas menyampaikan epilog, pergantian babak, dan prolog drama tersebut.

Oke, drama itu ada banyak rasanya, kayak cerita lagi, ada romance, comedy, action, dan lain-lain, hanya saja, kagak ada fantasi sama horror.

Oke, kali ini kita bahas dulu tentang tokoh-tokoh yang akan bermain dalam drama Kepintaran yang Tertukar ini.
Dina : Optimis thinking
Rio : Pemalas stadium akhir
Geri : Plin-plan, dan polos
Pak Didi : Tegas, dan lebih serem dari bapak lu saat marah
Kevin : Orang normal diantara orang-orang aneh.

Oke, kita ke naskah dramanya.

Kepintaran yang Tertukar

            Di suatu kelas yang dirahasiakan keberadaanya, terdapat beberapa orang murid dan seorang guru yang sedang melakukan kegiatan berlajar-mengejar. Namun, tiba-tiba situasi berubah panik! Mau tahu kenapa? Kita saksikan saja langsung. Saya (nama narrator) melaporkan langsung dari tempat kejadian.
Pak Didi : “Baiklah, sekarang bapak akan membagikan hasil ulangan kalian. Yang nilainya di bawah KKM, dapat hukuman!”
Geri : “Hukumannya apaan, pak?”
Kevin :”Palingan push-up atau lari di lapang,”
Pak Didi :”Bukan! Hukumannya pelajaran tambahan selama 2 minggu sepulang sekolah,”
Rio : “Buset! Mati gue,”
Pak Didi :”Baiklah, berhubung yang nilainya kurang dari KKM, Cuma ada satu orang, jadi bapak sebutin nilai dia dulu,”
Geri :”Siapa, ya,”
Dina :”Yang pasti bukan gue,”
Pak Didi :”Yang remidi adalah … deng! deng! Penasaran, ya. Oke, yang remidi adalah … nunggu, ya,” (nadanya ubah jadi nada pembaca acara)
Geri :”Ini guru, lama-lama gue lembar sepatu,”
Pak Didi :”Oke, oke, tenang, yang remidi adalah … Di .. Rio! Selamar kamu mendapat pelajaran tambahan sepulang sekolah selama 2 minggu!”
Yang lain :”Selamat! Selamat! HBD! Selamat menunaikan ibadah puasa,” (datang ke bangku Rio, terus balik lagi ke bangku masing-masing)
Pak Didi :”Oh iya, selain itu, nilai tertinggi diraih oleh Dina, yang sabar, ya, nak,”
Dina :”Iya, pak,”
Pak Didi :”Baiklah, pelajaran sekarang dicukupkan sekian,” (suaranya kembali berat, dan serak-serak cubluk gitu)
            Sepulang sekolah, Rio berbicara pelan
Rio :”Haah, ribet amat jadi gue, ngapaling gak masuk-masuk,” (lewat)
Dina :”Haah, susah amet jadi gue, pas ulangan dimintain contekaan mulu, kalo ga dikasih dikatain pelit,” (giliran Dina yang lewaat)
            Nah, ucapan itu adalah awal dari berubahnya kehidupan mereka. Semuanya menjadi tak sama lagi, yaps, kepintaran mereka tertukar, dan hal itu terjadi ketika berlangsungnya sebuah ulangan, Dina sama sekali tidak berhasil mengisi sesoal pun, sementara Rio, dia berhasil mengisi semua soal dengan tepat. Alhasil, kini nilai mereka terbalik.
(Diam sambil merenung) Dina :”…..”
Geri :”Cie, galau,” (datang sama Kevin)
Kevin :”Udahlah, Din, lo udah kerja keras juga, ‘kan?”
Dina :”Tapi gue gak berhasil,”
Kevin :”Ya kalo gitu kerja keras lagi, lebih keras lagi,”
Dina :”Tapi …,”
Geri :”Ayolah, mana Dina yang over pede,”
Dina :”Thanks, ya, guys,”
Geri :”Itulah gunanya musuh,”
Kevin :”Teman pe’a,”
Geri :”Ya, itu maksudnya.”
            Waktu demi waktu berlalu, ulangan selanjutnya pun datang.
Rio :”Allllah, cuma ulangan kimia ini,” (lewat, melewati narrator yang sedang di depan)
            Dan sekarang, hasil ulangan pun dibagikan.
Pak Didi :”Oke, sekarang nilai ulangan kimia kalian akan dibagikan, seperti biasa, yang remed hanya ada satu orang, dan itu adalah Rio,”
Rio :”Apa?! Kok saya remed, pak?”
Pak Didi :”Ya, karena nilai kamu kurang, kamu cuma dapat nilai 20, banyak soal yang salah, dan nomor dari 11 sampai 20, di belakang kertas tidak kamu isi,”
Rio :”Ah! Sial,”
Pak Didi :”Selain itu, ada juga yang nilainya 100, selamat buat Dina,”
Dina :”Bener, pak? Wah, masakasih banget, pak!”
            Singkatnya, orang rajin pasti pinter, orang pinter, belum tentu rajin, dan lama kelamaan, pisau yang tajam bisa tumpul jika tidak diasah, begitu pula sebaliknya, pisau yang tumpul bisa menjadi tajam jika sering diasah.

- Selesai –

Liat juga naskah drama yang lainnya
Naskah Drama Top 1
Kesalahanku Menyelamatkanku
Bercerita tentang 2 orang penjahat amatir yang mencuri kalung pertama, lalu 2 detektif yang melacak keberadaan 2 penjahat itu. Pastinya naskah drama ini dipenuhi dengan kejadian lucu

Naskah Drama Top 2
Cinta Segitiga Setan
Menceritakan 3 orang murdi yang memperebutkan cinta seorang murid baru. Tentu saja perebutan ini dipenuhi kejadian unik.

Naskah Drama Top 3 
Ulangan

Bercerita tentang macam-macam cara murid menghadapi ulangan, dari murid normal sampai murdi up normal. Naskah drama ini dipenuhi dengan hal menginspirasi dan unik, juga lucu pastinya. Recommended banget!




Oke, guys, artikel kali ini dicukupkan sekian, jika ada komentar, atau hal yang mau ditanyain, atau semagainya komen aja, nanti saya tanggapi. Oke, don’t forget add my to your list friend in FB, click my profile here